EFEKTIFITAS MEDIA KARTU GAMBAR TERHADAP PERKEMBANGAN KOGNITIF PADA
MASA KANAK-KANAK AWAL
Yulia Syahid, Siti Nur Mawaddah, Nuru Hikmah Maulida, Zhuda Indra
Pratama, Rr. Alfina Putri Nabila[1]
Abstrak : Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji efektifitas
media kartu gambar terhadap perkembangan kognitif. Subjek
dalam penelitian ini adalah anak PAUD “Penyejuk Mata” Serengseng Sawah Jakarta Selatan.
Kriteria subjek penelitian adalah anak-anak yang berusia 3-6 tahun yang
memasuki masa awal kanak-kanak. Subjek
yang diambil sampel dalam penelitian ini berjumlah 15 orang yang terdiri 9 orang laki-laki dan 6 orang
perempuan. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif-kualitatif. Fokusnya adalah penggambaran
secara menyeluruh tentang bentuk, fungsi, dan makna ungkapan larangan. Metode observasi yang digunakan Behavioral Checklist dengan pengumpulan data menggunakan Instrumen Asesmen Perkembangan
Kognitif Anak Usia Dini. Hasil yang ditunjukan dalam penelitian ini yaitu media
kartu gambar cukup efektif untuk perkembangan kognitif pada masa kanak-kanak
awal. Mengingat begitu pentingnya dalam proses perkembangan kognitif pada anak,
maka media kartu gambar dapat menjadi alternatif untuk meningkatkan daya ingat
(memori) yang terkait dengan perkembangan kognitif pada anak.
Keywords: media kartu gambar, perkembangan kognitif,
kanak-kanak awal
PENDAHULUAN
Usia
dini atau masa kanak-kanak awal merupakan usia yang sangat menentukan bagi
perkembangan anak, karena otak berkembang pesat pada usia ini oleh karenanya disebut
sebgagai golden age. Masa anak-anak awal berlangsung
dari umur 2 tahun hingga umur 6 tahun. Usia ini disebut juga usia prasekolah karena pada usia
ini anak belum cukup tua untuk masuk pendidikan formal. Untuk mempersiapkan
menuju jenjang pendidikan formal anak di
usia ini biasanya dimasukkan ke Taman Kanak-Kanak maupun Kelompok bermain (Papalia, 1993).
Masa usia dini sangat penting. Santrock dan Yussen
(Solehuddin, 2000: 2) berpendapat bahwa usia dini adalah masa yang penuh dengan
kejadian – kejadian penting dan unik (a
highly eventful and unique period of life) yang meletakkan dasar bagi
kehidupan seseorang di masa dewasa. Senada dengan Santrock dan Yussen, Hurlock
(1978: 26) mengemukakan bahwa lima tahun pertama anak merupakan peletak dasar
bagi perkembangan selanjutnya[2].
Perkembangan yang akan dialami pada saat masa kanak-kanak awal sangat
banyak mulai dari perkembangan fisik, perkembangan sosioemosional dan
perkembangan kognitif. Menurut Santrock (2011), perkembangan kognitif terkait
bagaimana anak membentuk persepsi, berpikir, mengingat, penalaran, pemecahan
masalah dan pengenalan simbol-simbol. Menurut Piaget dalam Santrock
(2011) tahap kognitif anak
yang berusia 2 hingga 7 tahun berada pada tahap praoperasional dimana anak-anak
mulai mempresentasikan dunia dengan menggunakan kata-kata, bayangan dan gambar.
Mereka membentuk konsep yang stabil dan mulai bernalar. Anak sudah dapat berpikir dalam simbol, namun
belum dapat menggunakan logika. Pada masa ini anak juga sudah dapat berpikir
mengenai sebuah benda, orang atau kejadian walaupun tidak sedang berada atau
terjadi di depan mereka.
Banyak anak di masa ini sulit untuk
berimajinasi, tidak mampu mengembangkan persepsinya, tidak mampu memahami
simbol-simbol dan sulit memahami apa yang disampaikan. Oleh karena itu
penyampaian pada anak-anak menggunakan lisan saja tidak cukup, perlu media lain
agar pemahaman yang disampaikan menjadi lebih kuat. Belum lagi, belakangan ini banyak sekolah dasar yang memberi syarat agar
anak yang masuk dites terlebih dahulu. Hal ini menjadikan guru di Taman
Kanak-Kanak sibuk untuk memberikan pengenalan huruf, simbol-simbol dan objek
pada anak.
Penggunaan media kartu bergambar dirasakan
dapat memperkuat penjelasan lisan yang disampaikan guru atau orang tua pada anak.
Menurut Mahmuda (2008, dalam Ula & Fauziyah, 2011) Kartu merupakan alat bantu yang menggunakan indera penglihatan
paling dominan. Kartu sering juga dimanfaatkan oleh guru untuk memberi penguatan
pada siswa (Drilling) mengenai suatu konsep bahasa tertentu ataupun untuk
memberi kesempatan siswa memperaktekkan aspek-aspek bahasa yang sudah
dikenal oleh guru. Hal ini
sesuai dengan tahap perkembangan kognitif anak dimana anak mulai
mempresentasikan dunia salah satunya dengan gambar.
Menurut Ahmad (1997: 76)[3]
mengatakan bahwa, pembelajaran dengan menggunakan media gambar merupakan konsep
belajar yang membantu guru dalam mengaitkan materi yang diajarkan dengan
situasi yang nyata anak dan mengungkapkan pengalaman dan pengertian yang lebih
luas, lebih jelas tidak mudah dilupakan serta lebih konkrit dalam ingatan.
Melalui media kartu
bergambar diaharapkan anak berusaha mengingat apa yang dilihat dan menuangkan
dalam bentuk imajinasi kreasi sebagai upaya untuk mempresentasikan dunianya dan
media kartu bergambar sebagai sarana pengenalan objek dan simbol pada anak.
Mengingat pentingnya perkembangan kognitif yang baik pada masa kanak-kanak awal
salah satunya agar anak mampu mengembangkan daya persepsinya berdasarkan apa yang
dilihat, didengar dan rasakan, sehingga anak akan memiliki pemahaman yang utuh
dan komprehensif. Maka peneliti tertarik untuk melakukan
penelitian mengenai efektivitas media kartu bergambar terhadap perkembangan
kognitif pada masa kanak-kanak awal.
Kanak-Kanak
Awal. Menurut
Santrock (2011), masa anak-anak dibagi menjadi dua yaitu
masa anak-anak awal dan masa anak-anak akhir. Masa anak-anak awal berlangsung
dari umur 2 tahun s.d. umur 6 tahun dan masa anak-anak akhir dari 6 tahun
sampai dengan pubertas. Masa anak awal
disebut juga sebagai usia sulit atau mengundang masalah, usia bermain, usia prasekolah,
usia berkelompok, usia menjelajah, usia bertanya, usia meniru.
Perkembangan Kognitif. Perkembangan kognitif merupakan dasar
bagi kemampuan anak untuk berpikir. Hal ini sesuai dengan pendapat Ahmad
Susanto (2011: 48)[4]
bahwa kognitif adalah suatu proses berpikir, yaitu kemampuan individu untuk menghubungkan,
menilai, dan mempertimbangkan suatu kejadian atau peristiwa. Jadi proses
kognitif berhubungan dengan tingkat kecerdasan (intelegensi) yang menandai
seseorang dengan berbagai minat terutama sekali ditujukan kepada ide-ide
belajar. Husdarta dan Nurlan (2010: 169) berpendapat bahwa perkembangan
kognitif adalah suatu proses menerus, namun hasilnya tidak merupakan sambungan
(kelanjutan) dari hasil-hasil yang telah dicapai sebelumnya.
Perkembangan Kognitif Pada Masa Awal Anak-Anak. Setalah
masa bayi dan batita, anak memasuki masa awal kanak-kanak. Anak-anak ini berada
pada rentang usia 3 sampai 6 tahun. Menurut Papalia (dalam Hildayani dkk,
2010:9.9) Pada masa ini, intelektual anak berkembang amat pesat. Menurut Piaget (dalam Santrock 2011), pada usia 3 – 6
tahun anak berada pada masa praoperasional. Pada masa ini anak sudah dapat
berpikir dalam simbol, namun belum dapat menggunakan logika. Pada masa ini anak
juga sudah dapat berpikir mengenai sebuah benda, orang atau kejadian walaupun
tidak sedang berada atau terjadi di depan mereka.
Berpikir
dengan simbol berarti anak sudah dapat menggambarkan berbagai hal dalam
pikirannya tanpa kehadiran benda tersebut. Menurut piaget, simbol yang
terpenting adalah kata-kata, yang kita ucapkan, kemudian kita tuliskan.
Pengetahuan akan simbol ini membuat kita dapat mengingat bentuk, kualitas dan
bahkan membicarakannya dengan orang lain disekitar kita. Oleh karena itu,
kemampuan berpikir simbolis ini merupakan kemajuan besar setelah anak melalui
tahap sensori motor.
Faktor Yang
Mempengaruhi Perkembangan Kognitif. Perkembangan kognitif anak
menunjukkan perkembangan dari cara berpikir anak. Ada faktor yang mempengaruhi
perkembangan tersebut. Faktor yang mempengaruhi perkembangan kognitif menurut
Piaget (dalam Partini, 2003:4)[5] bahwa “pengalaman yang
berasal dari lingkungan dan kematangan, keduanya mempengaruhi perkembangan
kognitif anak”. Sedangkan menurut Soemiarti dan Patmonodewo (2003: 20)
perkembangan kognitif dipengaruhi oleh pertumbuhan sel otak dan perkembangan
hubungan antar sel otak. Kondisi kesehatan dan gizi anak walaupun masih dalam
kandungan ibu akan mempengaruhi pertumbuhan
dan perkembangan anak. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan
kognitif antara lain:
a. Faktor Hereditas/Keturunan
Teori hereditas atau
nativisme yang dipelopori oleh seorang ahli filsafat Schopenhauer, mengemukakan
bahwa manusia yang lahir sudah membawa potensi tertentu yang tidak dapat
dipengaruhi oleh lingkungan. Taraf intelegensi sudah ditentukan sejak lahir.
b. Faktor Lingkungan
John Locke berpendapat
bahwa, manusia dilahirkan dalam keadaan suci seperti kertas putih yang belum
ternoda, dikenal dengan teori tabula rasa. Taraf intelegensi ditentukan oleh
pengalaman dan pengetahuan yang diperolehnya dari lingkungan hidupnya
c. Faktor Kematangan
Tiap organ (fisik maupaun
psikis) dikatakan matang jika telah mencapai kesanggupan menjalankan fungsinya
masing-masing. Hal ini berhubungan dengan usia kronologis.
d. Faktor Pembentukan
Pembentukan adalah segala
keadaan di luar diri seseorang yang mempengaruhi perkembangan intelegensi. Ada
dua pembentukan yaitu pembentukan sengaja (sekolah formal) dan pembentukan
tidak sengaja (pengaruh alam sekitar).
e. Faktor Minat dan Bakat
Minat mengarahkan
perbuatan kepada tujuan dan merupakan dorongan untuk berbuat lebih giat dan
lebih baik. Bakat seseorang akan mempengaruhi tingkat kecerdasannya. Seseorang
yang memiliki bakat tertentu akan semakin mudah dan cepat mempelajarinya.
f.
Faktor Kebebasan
Keleluasaan manusia untuk
berpikir divergen (menyebar) yang
berarti manusia dapat memilih metode tertentu dalam memecahkan masalah dan
bebas memilih masalah sesuai kebutuhan. Berdasarkan beberapa pendapat di atas
dapat disimpulkan bahwa faktor utama yang mempengaruhi perkembangan kognitif
anak adalah faktor kematangan dan pengalaman yang berasal dari interaksi anak
dengan lingkungan. Dari interaksi dengan lingkungan, anak akan memperoleh
pengalaman dengan menggunakan asimilasi, akomodasi, dan dikendalikan oleh prinsip keseimbangan. Pada anak TK,
pengetahuan itu bersifat subyektif dan akan berkembang menjadi obyektif apabila
sudah mencapai perkembangan remaja atau dewasa.
Media Kartu Gambar. Mahmuda (2008, dalam Ula & Fauziyah, 2011), kartu merupakan alat bantu yang menggunakan
indera penglihatan paling dominan. Kartu sering juga dimanfaatkan oleh guru
untuk memberi pengekuatan pada siswa (Drilling) mengenai suatu konsep bahasa
tertentu ataupun untuk memberi kesempatan siswa memperaktekan aspek-aspek
bahasa yang sudah dikenal oleh guru (Mahmuda, 2008: 101-104). Jadi kartu
merupakan alat media yang membantu menggunakan indera penglihatan dominan dan
juga alat yang memperjelas pengertian dan gambar.
Menurut Mahmuda (2008, dalam Ula & Fauziyah, 2011) gambar dan foto merupakan contoh alat bantu
pandang yang berguna untuk membantu siswa memahami konsep tertentu yang ingin
dikenal oleh guru, baik itu merupakan gambar tiruan, benda, kegiatan,
tokoh-tokoh penting, maupun situasi. Kegunaan alat ini untuk membantu
memudahkan siswa membantu pertanyaan, menjawab pertanyaan, maupun memahami isi
wacan lisan maupun tulisan (dalam Mahmuda, 2008 : 103).
Masalah
Penelitian. Apakah media kartu bergambar efektif untuk
meningkatkan perkembangan kognitif anak meliputi pemahaman akan hal yang
dijelaskan secara lisan pada masa kanak-kanak awal?
METODE
Penelitian ini
menggunakan pendekatan kualitatif studi kasus. Pertimbangan menggunakan metode
kualitatif adalah untuk mengungkapkan Efektifitas Media Kartu Gambar Terhadap Perkembangan Kognitif Pada
Masa Kanak-Kanak Awal.
Hal ini sejalan
dengan pendapat Bogdan dan Taylor (dalam Moleong, 2002: 3) yang menyatakan
”metodologi kualitatif” sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data
deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku
yang dapat diamati.
Subjek
dalam penelitian ini adalah pada anak PAUD “Penyejuk Mata” Srengseng Sawah
Jakarta Selatan. Kriteria subjek penelitian adalah anak-anak yang berusia 3-6
tahun yang memasuki masa awal kanak-kanak. Subjek
yang diambil sampel dalam penelitian ini berjumlah 15 orang yang terdiri 9
orang laki-laki dan 6 aorang perempuan. Peneliti memilih dan menentukan subjek
penelitian dengan cara purposive sampling.
Penelitian
ini menggunakan metode pengumpulan data dengan cara observasi dan wawancara. Metode observasi yang digunakan adalah jenis
Berperan Serta Secara Lengkap.
HASIL
Media Kartu Gambar
Dari hasil observasi
yang peneliti lakukan diketahui bahwa metode pengajaran yang diberikan guru
hanya sebatas pengajaran lisan saja, buku tugas seperti LKS (Lembar Kerja
Siswa) juga tidak terlalu berwarna serta didominasi oleh tulisan.
Respon
anak saat guru menjelaskan sangat beragam namun didominasi oleh keributan dan
tidak fokus karena guru hanya menerangkan tanpa memberi gambaran nyata memalui
suatu media terkait hal yang sedang dijelaskan.
Pada penelitian ini media kartu
gambar menjadi salah satu alat bantu untuk membantu anak dalam mengingat
pembelajaran yang diberikan oleh guru dan orangtua kepada anak. Adapun hasil
yang dilihat dalam pemberian media gambar ini adalah respon anak-anak saat
diberkan media kartu gambar, respon anak-anak terhadap pertanyaan observer, dan
jawaban anak-anak dari pertanyaan yang diberikan oleh observer.
Berikut beberapa media kartu gambar yang diberikan kepada
anak-anak dalam kategori anggota tubuh,
buah-buahan, hewan, dan struktur
keluarga.
Respon-respon yang muncul dari subjek penelitian pada saat
pemberian media kartu gambar sangat beragam. Respon anak-anak terhadap kartu
bergambar yang diberikan observer kepada baik dan antusias, terbukti dengan perhatian anak-anak
yang tinggi terhadap pemberian kartu bergambar yang diberikan oleh observer. Perhatiaan
anak-anak lebih terfokus pada saat observer memberikan pelajaran menggunakan
kartu bergambar dibandingkan dengan saat guru menjelaskan hanya berupa lisan
saja. Namun sesekali
respon anak-anak saat diiberikan materi oleh observer kurang memperhatikan
dibuktikan dengan anak-anak yang berbicara dengan temannya, berteriak-teriak,
berpindah-pindah tempat duduk dan menggoda teman-temannya. Hal ini dapat
teratasi karena observer dibantu oleh staff pengajar (Guru) dapat mengendalikan
suasana diruang belajar, sehingga anak-anak dapat kembali memperhatikan
terhadap materi yang diberikan oleh observer.
Adapun respon anak-anak tehadap
pertanyaan yang observer berikan sangat baik terbukti dengan tingkat keaktifan
anak-anak sangat tinggi pada saat menjawab pertanyaan yang observer berikan,
hanya beberapa anak-anak yang terlihat pasif ketika observer memberikan
pertanyaan berupa gambar. Respon terhadap jawaban-jawaban yang diberikan oleh
anak-anak terhadap pertanyaan yang observer berikan seimbang, terbukti dengan
jawaban-jawaban yang sebagian benar, sebagaian mendekati benar, dan sebagian
salah.
KESIMPULAN
Hasil
penelitian ini memperlihatkan bahwa media kartu gambar efektif untuk perkembangan kognitif pada masa
kanak-kanak awal. Mengingat begitu pentingnya dalam proses perkembangan
kognitif pada anak, maka media kartu gambar dapat menjadi alternatif untuk
meningkatkan daya ingat (memori) yang terkait dengan perkembangan kognitif pada
anak.
Berdasarkan
penelitian ini, maka guru harus senantiasa menciptakan suasana belajar yang
nyaman, ceria dan selalu memperhatikan perkembangan anak didiknya yang berperan
aktif dalam memberikan pengajaran disamping dengan pengajaran yang diberikan
oleh orangtua kepada anaknya.
DISKUSI
Menurut
Piaget dalam Santrock (2011) tahap
kognitif anak yang berusia 2 hingga 7 tahun berada pada tahap
praoperasional dimana anak-anak mulai mempresentasikan dunia dengan menggunakan
kata-kata, bayangan dan gambar. Mereka membentuk konsep yang stabil dan mulai
bernalar. Banyak anak di masa ini sulit untuk
berimajinasi, tidak mampu mengembangkan persepsinya, tidak mampu memahami
simbol-simbol dan sulit memahami apa yang disampaikan hanya secara lisan saja
tidak ada gambaran nyata dari objek yang djelaskan.
Melihat dari perubahan-perubahan
yang muncul pada subjek penelitian, membuktikan bahwa pentingnya metode
pembelajaran bagi masa kanak-kanak awal dengan menggunakkan media kartu gambar,
agar anak menjadi lebih paham akan hal yang dijelaskan.
Banyak
faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan kognitif anak salah satunya adalah
lingkungan. Ketika anak mengikuti PAUD atau TK maka lingkungan prasekolahnya
dan lingkungan rumah yang berperan aktif dalam membentuk perkembangan
kognitifnya.
DAFTAR PUSTAKA
Kajian Pustaka. Diunduh dari http://eprints.uny.ac.id/9813/2/BAB2%20-%2008111241026.pdf, pada 18 oktober 2013, pukul
13.45.
Moleong,
L.J. (2002). Metode Penelitian Kualitatif. Bandung : Remaja Rosda Karya
Papalia, Dian E., Olds, Sally W., & Feldman, Ruth
Duskin. (2009). Human Development (ed. 10). Jakarta : Salemba Humanika.
Partini, S. (2003). Psikologi Perkembangan. Universitas
Negeri Malang : Digital Library
Santrock, J.W. (2002). Life-Span
Development. (ed.5). Jakarta: Erlangga
Santrock, J.W. (2011). Life Span Development. (13th
ed). Jakarta:Erlangga
Ula, N.M., & Fauziyah, N. (2011). Efektifitas Media
Kartu Gambar terhadap Peningkatan Kemampuan Bahasa Arab Anak, Jurnal Penelitian
Psikologi
[1]
Mahasiswa Fakultas Psikologi
Universitas Pancasila
[2]
http://eprints.uny.ac.id/9885/1/BAB%201%20-%2008111247016.pdf diakses pada tanggal 12
Oktober 2013 pukul 09.40 WIB
[3]
http://eprints.uny.ac.id/8988/2/bab%201%20-%2009111247039.pdf diakses pada tanggal 12
Oktober 2013 pukul 09.45 WIB
[4]
http://eprints.uny.ac.id/9813/2/BAB2%20-%2008111241026.pdf diakses pada tanggal 16 Oktober
2013 pukul 14.00 WIB