Kamis, 31 Oktober 2013

JURNAL KELOMPOK 1 (Psikodiagnostik II Observasi)



EFEKTIFITAS MEDIA KARTU GAMBAR TERHADAP PERKEMBANGAN KOGNITIF PADA MASA KANAK-KANAK AWAL

Yulia Syahid, Siti Nur Mawaddah, Nuru Hikmah Maulida, Zhuda Indra Pratama, Rr. Alfina Putri Nabila[1]

Abstrak : Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji efektifitas media kartu gambar terhadap perkembangan kognitif. Subjek dalam penelitian ini adalah anak PAUD “Penyejuk Mata” Serengseng Sawah Jakarta Selatan. Kriteria subjek penelitian adalah anak-anak yang berusia 3-6 tahun yang memasuki masa awal kanak-kanak. Subjek yang diambil sampel dalam penelitian ini berjumlah 15 orang yang terdiri 9 orang laki-laki dan 6 orang perempuan. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif-kualitatif. Fokusnya adalah penggambaran secara menyeluruh tentang bentuk, fungsi, dan makna ungkapan larangan. Metode observasi yang digunakan Behavioral Checklist dengan pengumpulan data menggunakan Instrumen Asesmen Perkembangan Kognitif Anak Usia Dini. Hasil yang ditunjukan dalam penelitian ini yaitu media kartu gambar cukup efektif untuk perkembangan kognitif pada masa kanak-kanak awal. Mengingat begitu pentingnya dalam proses perkembangan kognitif pada anak, maka media kartu gambar dapat menjadi alternatif untuk meningkatkan daya ingat (memori) yang terkait dengan perkembangan kognitif pada anak.
Keywords: media kartu gambar, perkembangan kognitif, kanak-kanak awal

PENDAHULUAN
Usia dini atau masa kanak-kanak awal merupakan usia yang sangat menentukan bagi perkembangan anak, karena otak berkembang pesat pada usia ini oleh karenanya disebut sebgagai golden age. Masa anak-anak awal berlangsung dari umur 2 tahun hingga umur 6 tahun. Usia ini disebut juga usia prasekolah karena pada usia ini anak belum cukup tua untuk masuk pendidikan formal. Untuk mempersiapkan menuju jenjang  pendidikan formal anak di usia ini biasanya dimasukkan ke Taman Kanak-Kanak maupun Kelompok bermain (Papalia, 1993).
Masa usia dini sangat penting. Santrock dan Yussen (Solehuddin, 2000: 2) berpendapat bahwa usia dini adalah masa yang penuh dengan kejadian – kejadian penting dan unik (a highly eventful and unique period of life) yang meletakkan dasar bagi kehidupan seseorang di masa dewasa. Senada dengan Santrock dan Yussen, Hurlock (1978: 26) mengemukakan bahwa lima tahun pertama anak merupakan peletak dasar bagi perkembangan selanjutnya[2].
Perkembangan yang akan dialami pada saat masa kanak-kanak awal sangat banyak mulai dari perkembangan fisik, perkembangan sosioemosional dan perkembangan kognitif. Menurut Santrock (2011), perkembangan kognitif terkait bagaimana anak membentuk persepsi, berpikir, mengingat, penalaran, pemecahan masalah dan pengenalan simbol-simbol. Menurut Piaget dalam Santrock (2011) tahap kognitif anak yang berusia 2 hingga 7 tahun berada pada tahap praoperasional dimana anak-anak mulai mempresentasikan dunia dengan menggunakan kata-kata, bayangan dan gambar. Mereka membentuk konsep yang stabil dan mulai bernalar. Anak sudah dapat berpikir dalam simbol, namun belum dapat menggunakan logika. Pada masa ini anak juga sudah dapat berpikir mengenai sebuah benda, orang atau kejadian walaupun tidak sedang berada atau terjadi di depan mereka.
Banyak anak di masa ini sulit untuk berimajinasi, tidak mampu mengembangkan persepsinya, tidak mampu memahami simbol-simbol dan sulit memahami apa yang disampaikan. Oleh karena itu penyampaian pada anak-anak menggunakan lisan saja tidak cukup, perlu media lain agar pemahaman yang disampaikan menjadi lebih kuat. Belum lagi, belakangan ini banyak sekolah dasar yang memberi syarat agar anak yang masuk dites terlebih dahulu. Hal ini menjadikan guru di Taman Kanak-Kanak sibuk untuk memberikan pengenalan huruf, simbol-simbol dan objek pada anak.
Penggunaan media kartu bergambar dirasakan dapat memperkuat penjelasan lisan yang disampaikan guru atau orang tua pada anak. Menurut Mahmuda (2008, dalam Ula & Fauziyah, 2011) Kartu merupakan alat bantu yang menggunakan indera penglihatan paling dominan. Kartu sering juga dimanfaatkan oleh guru untuk memberi penguatan pada siswa (Drilling) mengenai suatu konsep bahasa tertentu ataupun untuk memberi kesempatan siswa memperaktekkan aspek-aspek bahasa yang sudah dikenal oleh guru. Hal ini sesuai dengan tahap perkembangan kognitif anak dimana anak mulai mempresentasikan dunia salah satunya dengan gambar.
Menurut Ahmad (1997: 76)[3] mengatakan bahwa, pembelajaran dengan menggunakan media gambar merupakan konsep belajar yang membantu guru dalam mengaitkan materi yang diajarkan dengan situasi yang nyata anak dan mengungkapkan pengalaman dan pengertian yang lebih luas, lebih jelas tidak mudah dilupakan serta lebih konkrit dalam ingatan.
Melalui media kartu bergambar diaharapkan anak berusaha mengingat apa yang dilihat dan menuangkan dalam bentuk imajinasi kreasi sebagai upaya untuk mempresentasikan dunianya dan media kartu bergambar sebagai sarana pengenalan objek dan simbol pada anak. Mengingat pentingnya perkembangan kognitif yang baik pada masa kanak-kanak awal salah satunya agar anak mampu mengembangkan daya persepsinya berdasarkan apa yang dilihat, didengar dan rasakan, sehingga anak akan memiliki pemahaman yang utuh dan komprehensif. Maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai efektivitas media kartu bergambar terhadap perkembangan kognitif pada masa kanak-kanak awal.

Kanak-Kanak Awal. Menurut Santrock (2011), masa anak-anak dibagi menjadi dua yaitu masa anak-anak awal dan masa anak-anak akhir. Masa anak-anak awal berlangsung dari umur 2 tahun s.d. umur 6 tahun dan masa anak-anak akhir dari 6 tahun sampai dengan  pubertas. Masa anak awal disebut juga sebagai usia sulit atau mengundang masalah, usia bermain, usia prasekolah, usia berkelompok, usia menjelajah, usia bertanya, usia meniru.

Perkembangan Kognitif. Perkembangan kognitif merupakan dasar bagi kemampuan anak untuk berpikir. Hal ini sesuai dengan pendapat Ahmad Susanto (2011: 48)[4] bahwa kognitif adalah suatu proses berpikir, yaitu kemampuan individu untuk menghubungkan, menilai, dan mempertimbangkan suatu kejadian atau peristiwa. Jadi proses kognitif berhubungan dengan tingkat kecerdasan (intelegensi) yang menandai seseorang dengan berbagai minat terutama sekali ditujukan kepada ide-ide belajar. Husdarta dan Nurlan (2010: 169) berpendapat bahwa perkembangan kognitif adalah suatu proses menerus, namun hasilnya tidak merupakan sambungan (kelanjutan) dari hasil-hasil yang telah dicapai sebelumnya.

Perkembangan Kognitif Pada Masa Awal Anak-Anak. Setalah masa bayi dan batita, anak memasuki masa awal kanak-kanak. Anak-anak ini berada pada rentang usia 3 sampai 6 tahun. Menurut Papalia (dalam Hildayani dkk, 2010:9.9) Pada masa ini, intelektual anak berkembang amat pesat. Menurut Piaget (dalam Santrock 2011), pada usia 3 – 6 tahun anak berada pada masa praoperasional. Pada masa ini anak sudah dapat berpikir dalam simbol, namun belum dapat menggunakan logika. Pada masa ini anak juga sudah dapat berpikir mengenai sebuah benda, orang atau kejadian walaupun tidak sedang berada atau terjadi di depan mereka.
            Berpikir dengan simbol berarti anak sudah dapat menggambarkan berbagai hal dalam pikirannya tanpa kehadiran benda tersebut. Menurut piaget, simbol yang terpenting adalah kata-kata, yang kita ucapkan, kemudian kita tuliskan. Pengetahuan akan simbol ini membuat kita dapat mengingat bentuk, kualitas dan bahkan membicarakannya dengan orang lain disekitar kita. Oleh karena itu, kemampuan berpikir simbolis ini merupakan kemajuan besar setelah anak melalui tahap sensori motor.

Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Kognitif. Perkembangan kognitif anak menunjukkan perkembangan dari cara berpikir anak. Ada faktor yang mempengaruhi perkembangan tersebut. Faktor yang mempengaruhi perkembangan kognitif menurut Piaget (dalam Partini, 2003:4)[5] bahwa “pengalaman yang berasal dari lingkungan dan kematangan, keduanya mempengaruhi perkembangan kognitif anak”. Sedangkan menurut Soemiarti dan Patmonodewo (2003: 20) perkembangan kognitif dipengaruhi oleh pertumbuhan sel otak dan perkembangan hubungan antar sel otak. Kondisi kesehatan dan gizi anak walaupun masih dalam kandungan ibu akan  mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan kognitif antara lain:
a.      Faktor Hereditas/Keturunan
Teori hereditas atau nativisme yang dipelopori oleh seorang ahli filsafat Schopenhauer, mengemukakan bahwa manusia yang lahir sudah membawa potensi tertentu yang tidak dapat dipengaruhi oleh lingkungan. Taraf intelegensi sudah ditentukan sejak lahir.
b.      Faktor Lingkungan
John Locke berpendapat bahwa, manusia dilahirkan dalam keadaan suci seperti kertas putih yang belum ternoda, dikenal dengan teori tabula rasa. Taraf intelegensi ditentukan oleh pengalaman dan pengetahuan yang diperolehnya dari lingkungan hidupnya
c.       Faktor Kematangan
Tiap organ (fisik maupaun psikis) dikatakan matang jika telah mencapai kesanggupan menjalankan fungsinya masing-masing. Hal ini berhubungan dengan usia kronologis.
d.      Faktor Pembentukan
Pembentukan adalah segala keadaan di luar diri seseorang yang mempengaruhi perkembangan intelegensi. Ada dua pembentukan yaitu pembentukan sengaja (sekolah formal) dan pembentukan tidak sengaja (pengaruh alam sekitar).
e.      Faktor Minat dan Bakat
Minat mengarahkan perbuatan kepada tujuan dan merupakan dorongan untuk berbuat lebih giat dan lebih baik. Bakat seseorang akan mempengaruhi tingkat kecerdasannya. Seseorang yang memiliki bakat tertentu akan semakin mudah dan cepat mempelajarinya.
f.        Faktor Kebebasan
Keleluasaan manusia untuk berpikir divergen (menyebar) yang berarti manusia dapat memilih metode tertentu dalam memecahkan masalah dan bebas memilih masalah sesuai kebutuhan. Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa faktor utama yang mempengaruhi perkembangan kognitif anak adalah faktor kematangan dan pengalaman yang berasal dari interaksi anak dengan lingkungan. Dari interaksi dengan lingkungan, anak akan memperoleh pengalaman dengan menggunakan asimilasi, akomodasi, dan dikendalikan  oleh prinsip keseimbangan. Pada anak TK, pengetahuan itu bersifat subyektif dan akan berkembang menjadi obyektif apabila sudah mencapai perkembangan remaja atau dewasa.

Media Kartu Gambar. Mahmuda (2008, dalam Ula & Fauziyah, 2011), kartu merupakan alat bantu yang menggunakan indera penglihatan paling dominan. Kartu sering juga dimanfaatkan oleh guru untuk memberi pengekuatan pada siswa (Drilling) mengenai suatu konsep bahasa tertentu ataupun untuk memberi kesempatan siswa memperaktekan aspek-aspek bahasa yang sudah dikenal oleh guru (Mahmuda, 2008: 101-104). Jadi kartu merupakan alat media yang membantu menggunakan indera penglihatan dominan dan juga alat yang memperjelas pengertian dan gambar.
Menurut Mahmuda (2008, dalam Ula & Fauziyah, 2011) gambar dan foto merupakan contoh alat bantu pandang yang berguna untuk membantu siswa memahami konsep tertentu yang ingin dikenal oleh guru, baik itu merupakan gambar tiruan, benda, kegiatan, tokoh-tokoh penting, maupun situasi. Kegunaan alat ini untuk membantu memudahkan siswa membantu pertanyaan, menjawab pertanyaan, maupun memahami isi wacan lisan maupun tulisan (dalam Mahmuda, 2008 : 103).
Masalah Penelitian. Apakah media kartu bergambar efektif untuk meningkatkan perkembangan kognitif anak meliputi pemahaman akan hal yang dijelaskan secara lisan pada masa kanak-kanak awal?
METODE
            Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif studi kasus. Pertimbangan menggunakan metode kualitatif adalah untuk mengungkapkan Efektifitas Media Kartu Gambar Terhadap Perkembangan Kognitif Pada Masa Kanak-Kanak Awal.
Hal ini sejalan dengan pendapat Bogdan dan Taylor (dalam Moleong, 2002: 3) yang menyatakan ”metodologi kualitatif” sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati.
            Subjek dalam penelitian ini adalah pada anak PAUD “Penyejuk Mata” Srengseng Sawah Jakarta Selatan. Kriteria subjek penelitian adalah anak-anak yang berusia 3-6 tahun yang memasuki masa awal kanak-kanak. Subjek yang diambil sampel dalam penelitian ini berjumlah 15 orang yang terdiri 9 orang laki-laki dan 6 aorang perempuan. Peneliti memilih dan menentukan subjek penelitian dengan cara purposive sampling.
            Penelitian ini menggunakan metode pengumpulan data dengan cara observasi dan wawancara. Metode observasi yang digunakan adalah jenis Berperan Serta Secara Lengkap.

HASIL
Media Kartu Gambar
            Dari hasil observasi yang peneliti lakukan diketahui bahwa metode pengajaran yang diberikan guru hanya sebatas pengajaran lisan saja, buku tugas seperti LKS (Lembar Kerja Siswa) juga tidak terlalu berwarna serta didominasi oleh tulisan.
            Respon anak saat guru menjelaskan sangat beragam namun didominasi oleh keributan dan tidak fokus karena guru hanya menerangkan tanpa memberi gambaran nyata memalui suatu media terkait hal yang sedang dijelaskan.      
            Pada penelitian ini media kartu gambar menjadi salah satu alat bantu untuk membantu anak dalam mengingat pembelajaran yang diberikan oleh guru dan orangtua kepada anak. Adapun hasil yang dilihat dalam pemberian media gambar ini adalah respon anak-anak saat diberkan media kartu gambar, respon anak-anak terhadap pertanyaan observer, dan jawaban anak-anak dari pertanyaan yang diberikan oleh observer.
Berikut beberapa media kartu gambar yang diberikan kepada anak-anak dalam kategori  anggota tubuh, buah-buahan, hewan,  dan struktur keluarga.  
Respon-respon yang muncul dari subjek penelitian pada saat pemberian media kartu gambar sangat beragam. Respon anak-anak terhadap kartu bergambar yang diberikan observer kepada baik dan antusias, terbukti dengan perhatian anak-anak yang tinggi terhadap pemberian kartu bergambar yang diberikan oleh observer. Perhatiaan anak-anak lebih terfokus pada saat observer memberikan pelajaran menggunakan kartu bergambar dibandingkan dengan saat guru menjelaskan hanya berupa lisan saja. Namun sesekali respon anak-anak saat diiberikan materi oleh observer kurang memperhatikan dibuktikan dengan anak-anak yang berbicara dengan temannya, berteriak-teriak, berpindah-pindah tempat duduk dan menggoda teman-temannya. Hal ini dapat teratasi karena observer dibantu oleh staff pengajar (Guru) dapat mengendalikan suasana diruang belajar, sehingga anak-anak dapat kembali memperhatikan terhadap materi yang diberikan oleh observer.
           Adapun respon anak-anak tehadap pertanyaan yang observer berikan sangat baik terbukti dengan tingkat keaktifan anak-anak sangat tinggi pada saat menjawab pertanyaan yang observer berikan, hanya beberapa anak-anak yang terlihat pasif ketika observer memberikan pertanyaan berupa gambar. Respon terhadap jawaban-jawaban yang diberikan oleh anak-anak terhadap pertanyaan yang observer berikan seimbang, terbukti dengan jawaban-jawaban yang sebagian benar, sebagaian mendekati benar, dan sebagian salah.

KESIMPULAN
            Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa media kartu gambar efektif untuk perkembangan kognitif pada masa kanak-kanak awal. Mengingat begitu pentingnya dalam proses perkembangan kognitif pada anak, maka media kartu gambar dapat menjadi alternatif untuk meningkatkan daya ingat (memori) yang terkait dengan perkembangan kognitif pada anak.
Berdasarkan penelitian ini, maka guru harus senantiasa menciptakan suasana belajar yang nyaman, ceria dan selalu memperhatikan perkembangan anak didiknya yang berperan aktif dalam memberikan pengajaran disamping dengan pengajaran yang diberikan oleh orangtua kepada anaknya.

DISKUSI
            Menurut Piaget dalam Santrock (2011) tahap kognitif anak yang berusia 2 hingga 7 tahun berada pada tahap praoperasional dimana anak-anak mulai mempresentasikan dunia dengan menggunakan kata-kata, bayangan dan gambar. Mereka membentuk konsep yang stabil dan mulai bernalar. Banyak anak di masa ini sulit untuk berimajinasi, tidak mampu mengembangkan persepsinya, tidak mampu memahami simbol-simbol dan sulit memahami apa yang disampaikan hanya secara lisan saja tidak ada gambaran nyata dari objek yang djelaskan.
            Melihat dari perubahan-perubahan yang muncul pada subjek penelitian, membuktikan bahwa pentingnya metode pembelajaran bagi masa kanak-kanak awal dengan menggunakkan media kartu gambar, agar anak menjadi lebih paham akan hal yang dijelaskan.
            Banyak faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan kognitif anak salah satunya adalah lingkungan. Ketika anak mengikuti PAUD atau TK maka lingkungan prasekolahnya dan lingkungan rumah yang berperan aktif dalam membentuk perkembangan kognitifnya.

  
DAFTAR PUSTAKA
Kajian Pustaka. Diunduh dari http://eprints.uny.ac.id/9813/2/BAB2%20-%2008111241026.pdf, pada 18 oktober 2013, pukul 13.45.
Moleong, L.J. (2002). Metode Penelitian Kualitatif. Bandung : Remaja Rosda Karya
Papalia, Dian E., Olds, Sally W., & Feldman, Ruth Duskin. (2009). Human Development (ed. 10). Jakarta : Salemba Humanika.
Partini, S. (2003). Psikologi Perkembangan. Universitas Negeri Malang : Digital Library
Santrock, J.W. (2002). Life-Span Development. (ed.5). Jakarta: Erlangga
Santrock, J.W. (2011). Life Span Development. (13th ed). Jakarta:Erlangga
Ula, N.M., & Fauziyah, N. (2011). Efektifitas Media Kartu Gambar terhadap Peningkatan Kemampuan Bahasa Arab Anak, Jurnal Penelitian Psikologi




[1] Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Pancasila
[2] http://eprints.uny.ac.id/9885/1/BAB%201%20-%2008111247016.pdf diakses pada tanggal 12 Oktober 2013 pukul 09.40 WIB
[3] http://eprints.uny.ac.id/8988/2/bab%201%20-%2009111247039.pdf diakses pada tanggal 12 Oktober 2013 pukul 09.45 WIB
[4] http://eprints.uny.ac.id/9813/2/BAB2%20-%2008111241026.pdf diakses pada tanggal 16 Oktober 2013 pukul 14.00 WIB

Senin, 07 Oktober 2013

REVIEW JURNAL (MINGGU KE-4)



       Minggu kemarin tepatnya pada hari selasa 1 Oktober 2013 matakuliah Psikodiagnostik II (Observasi) lagi-lagi membahas jurnal yang di analisa dan dipresentasikan oleh kelompok. Pada kesempatan ini, kelompok yang akan presentasi yaitu Kelompok tiga dan kelompok delapan. Berikut reviewnya :

REVIEW JURNAL KELOMPOK 3
Sumber : journal.uad.ac.id/index.php/EMPATHY/article/download/1555/893‎
 
Efektivitas Metode Bermain Peran (Role Play) Untuk Meningkatkan Keterampilan Komunikasi Pada Anak

Hasil diskusi, pertanyaan dan masukan dari dosen dan beberapa mahasiswa untuk jurnal ini yaitu :

1.     Pengambilan sample yang dilakukan oleh peneliti pada saat pre-test dan post test memakain teknik CBPL (Di PPT tidak dijelaskan).
2.     Karena ini merupakan penelitian eksperimen sample yang di teliti hanya 15 orang (7 dan 8). Hal ini mempengaruhi validitas hasil penelitian.
3.     Usia anak pada sample jika dikaitkan dengan teori perkembangan pada usia 5 tahun termasuk dalam kategori apa serta apa saja kemampuan anak pada usia tersebut (Perlu ditinjau kembali berdasarkan teori).
4.     Komunikasi yang dilakukan pada anak usia 5 tahun kepada temannnya seperti apa?

BERIKUT ISI DARI JURNAL YANG DI ANALISA
FENOMENA
Peneliti tertarik untuk mengetahui cara komunikasi pada anak kecil karena banyak anak yang belum mampu melakukan kemampuan berkomunikasi yang sesuai dengan tahap perkembangannya.

RUMUSAN MASALAH
Apakah ada perbedaan keterampilan komunikasi pada anak yang diberikan perlakuan metode bermain peran (role play) dengan anak yang tidak diberikan perlakuan metode bermain peran?

SUBJEK PENELITIAN
Siswa-siswi kelas B PAUD IT Durratul Islam Ngablak Magelang yang memiliki keterampilan komunikasi dibawah rata-rata berdasarkan dari hasil observasi awal. Kelompok kontrol 7 orang, kelompok eksperimen 8.
 
METODE PENELITIAN
      Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan observasi dengan metode Child Behaviour Checklist (CBCL). 

HASIL PENELITIAN
Pada kelompok eksperimen terdapat perbedaan skor keterampilan komunikasi yang signifikan dari sebelum diberi perlakuan dan setelah diberi perlakuan.
Sedangkan pada kelompok kontrol tidak ada perbedaan dari sebelum diberi perlakuan dan setelah diberi perlakuan.
Dilihat dari hasil uji analisis,ada perbedaan peningkatan yang signifikan pada keterampilan komunikasi antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol pada saat setelah diberi perlakuan. 

KELEMAHAN
      Terbatasnya waktu dalam pengambilan data subjek
      Beberapa item yang kurang mewakili dari aspek-aspek keterampilan komunikasi.


  

REVIEW JURNAL KELOMPOK 3
Memperkecil Frekuensi Membolos melalui Konseling Pribadi Diri

Hasil diskusi, pertanyaan dan masukan dari dosen dan beberapa mahasiswa untuk jurnal ini yaitu :
1.     Tidak dijelaskan fenomena apa yang menyebabkan peneliti tertarik melakukan penelitian tersebut.
2.     Siapa yang memberikan konseling kepada siswa tersebut?Bagaimana melakukannya?


BERIKUT ISI DARI JURNAL YANG DI ANALISA

TUJUAN PENELITIAN
Mengatahui efektifitas konseling pribadi dapat memperkecil frekuensi membolos konseli pada semester ganjil tahun 2009/2010 di SMA Islam Lumajang. 

TAHAPAN PENELITIAN
      Sampel sebanyak 5 orang
      Lima konseli berasal dari kelas yang berbeda dan masing-masing diambil satu konseli, yaitu dari kelas : XI-IPS1, XI-IPA2, XI-IPS2, XII-IPA1 dan kelas: XII-IPS1
      Masing-masing konseli memiliki frekuensi membolos sebanyak 14,14,15,10 dan 18 kali.

HASIL PENELITIAN
      Konseling pribadi dapat memperkecil frekuensi membolos pada semester 1 tahun pelajaran 2009 / 2010 di SMA Islam Lumajang.
      Faktor penyebab konseli sering membolos yaitu ada kesamaan kesenangan dengan konseli yang sering membolos, faktor keluarga, akibat pergaulan (ikut-ikutan), belum ada stabilitas tangung jawab terhadap peran diri sebagai pelajar, kurang mendapatkan perhatian guru saat kegiatan pembelajaran, kurang mendapatkan perhatian dari keluarga.